0813-8880-1112

Senin - Sabtu 8.00 - 17.00

Top
Catatan Pulau Kenawa - Dattang.com
fade
3509
post-template-default,single,single-post,postid-3509,single-format-standard,mkd-core-1.1.1,mkdf-tours-1.3,voyage-ver-1.3,mkdf-smooth-scroll,mkdf-smooth-page-transitions,mkdf-ajax,mkdf-blog-installed,mkdf-breadcrumbs-area-enabled,mkdf-header-standard,mkdf-sticky-header-on-scroll-up,mkdf-default-mobile-header,mkdf-sticky-up-mobile-header,mkdf-dropdown-default,mkdf-medium-title-text,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
20 Des

Catatan Pulau Kenawa

Pariri Lema Bariri. Semboyan khas daerah Sumbawa Barat ini adalah yang pertama menyapa saya ketika saya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Pelabuhan Poto Tano. Waktu menunjukkan pukul setengah empat sore. Perjalanan yang cukup lama memang. Saya berangkat dari kota Mataram pukul 10 pagi, sampai di Pelabuhan Kayangan pukul 12 siang, kemudian menunggu kapal ferry yang baru berangkat sekitar jam  1 siang. Kira-kira empat sampai lima jam untuk mencapai Sumbawa Barat dari kota Mataram. Namun, saya memakai elf dari Mataram untuk mencapai Poto Tano. Apabila memakai bus damri, seharusnya bisa lebih cepat.

Sepanjang perjalanan dari Mataram, jujur, saya sudah sedikit norak. Karena pemandangan di kanan kiri jalan sangat bagus, setidaknya menurut saya. Beginilah apabila orang yang lebih akrab dengan gedung-gedung bertingkat di kota bepergian ke daerah timur sana. Saat kapal ferry mendekati Pelabuhan Poto Tano, saya makin menjadi-jadi. Gugusan kepulauan kecil-kecil dengan perbukitan dan savana yang menguning kecokelatan terlihat dimana-mana. Sebuah pemandangan khas daerah Nusa Tenggara. Saya pun sibuk mengabadikan pemandangan tersebut.

Tiba di Pelabuhan Poto Tano, saya dan teman-teman saya langsung menyewa perahu untuk menyeberang ke Pulau Kenawa, sebuah pulau tidak berpenghuni yang terletak sekitar 10 menit penyeberangan dari Pelabuhan Poto Tano. Sebelumnya, saya memang sudah berniat untuk mengunjungi pulau ini, karena pulau ini termasuk salah satu yang direkomendasikan apabila anda mencari rekomendasi tempat wisata di Sumbawa Barat di Google. Katanya, pulau ini memiliki padang savana yang sangat indah, dengan bukit kecil yang bisa dinaiki untuk melihat matahari terbenam. Saya sangat excited!

Dan ya… kalau diingat-ingat sekarang, rasanya saya norak luar biasa ketika saya akhirnya sampai di Pulau Kenawa. Saya melonjak-lonjak kegirangan melihat padang savana yang menguning, ditambah lagi saat itu kondisi pulaunya sepi sehingga rasanya Kenawa hanya milik saya dan teman-teman saya. Saya beristirahat sejenak di bale-bale yang banyak terdapat di pinggir pulau. Kemudian saya mengedarkan pandangan tiga ratus enam puluh derajat.

Bagaimana ya? Ketika itu sulit untuk menjelaskan keindahannya. Saya sudah beberapa kali bermain ke pulau-pulau dan pantai, seperti Kepulauan Seribu, Pulau Peucang, Pulau Sempu, Bali… namun menurut saya ketika itu, Pulau Kenawa lah yang paling bagus. Mungkin karena impian saya sedari dulu untuk berjalan-jalan di padang savana di suatu daerah di Nusa Tenggara akhirnya tercapai (iya, sejak masih duduk di sekolah dasar saya ingin sekali ke Nusa Tenggara). Kemudian, pasir di pantainya sangat putih. Dasar lautnya terlihat jernih, termasuk terumbu karang dan ikan-ikan yang berenang dengan riangnya. Saya duduk dan menatap sepuas-puasnya selama kira-kira setengah jam, sembari memasak perbekalan.

Sekitar pukul lima sore, saya mulai berjalan menuju puncak bukit kecil yang terletak di ujung pulau. Diperlukan waktu sekitar 10 menit untuk mencapai puncak bukit ini, namun saya rasa saya membutuhkan waktu lebih lama karena saya sibuk menoleh ke belakang sembari mengabadikan pemandangan yang saya lihat dengan kamera saya. Ini luar biasa, pikir saya waktu itu.

Dan di puncak bukit Pulau Kenawa itu lah saya menatap sepuas-puasnya matahari yang beranjak terbenam di atas lautan. Di kejauhan, terlihat Gunung Rinjani berdiri angkuh. Derai tawa terus keluar dari mulut saya dan teman-teman saya, kalau diingat-ingat tampaknya kami sangat bahagia saat itu, berada di sebuah daerah yang jauh dari rumah, tanpa ada satu hal pun yang dikhawatirkan kecuali apa yang akan terjadi esok hari. Tak lama setelah matahari terbenam, kami menuruni bukit untuk kembali ke kapal dan menyeberang kembali ke Pelabuhan Poto Tano. Diatas kepala saya, bintang-bintang mulai bersinar. Saya takjub. Saya berjalan dengan kepala menengadah ke atas.

Sebuah first impression yang sempurna dari Sumbawa Barat untuk saya.

 

Silvia Adinda Tarigan

No Comments

Leave a Reply: